Senin, 05 Januari 2009

Demokrasi VS Kemakmuran

Judul di atas saya ambil tepat seperti tema forum Soegeng Sarjadi semalam (5 Jan 2009) yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi lokal swasta. Dalam forum semalam beliau mengundang Ichsanudin Noorsy, Arbi Sanit & Fadli Zon sebagai narasumber. Sesuai tema di atas, diskusi itu membahas mengenai apakah ada korelasi erat antara demokrasi & kemakmuran? Sehingga bila ada, maka pertanyaan berikutnya adalah mana yang harus lebih dulu dicapai? Pembahasan ini menurut Pak Soegeng, dipilihnya terkait dengan salah satu pernyataan Gubernur BI, Boediono, pada pidatonya di acara pengukuhan guru besar di salah satu Universitas Negeri yang menyatakan bahwa demokrasi di Indonesia baru dapat berjalan bila income per capita trelah mencapai US 6000 (maaf, bila redaksi kata per kata ternyata kurang tepat seperti pernyataan Pak Boediono, namun intinya seperti itu). Beliaupun sengaja mengangkat tema ini dengan tujuan untuk menghindari terjadinya misleading dalam pengertian demokrasi & kemakmuran, walaupun statement tersebut hanya disampaikan Pak Boediono pada pidatonya di acara pengukuhan guru besar.

Pembahasan tema ini terasa menarik saat saya menyimak jalannya diskusi tersebut, yang ternyata saat berakhir masih belum mendapatkan kesimpulan yang bulat atau belum benar-benar mengerucut (bila mengambil istilah Pak Soegeng).

Sejak awal Pak Soegeng berpendapat bahwa menurutnya tidak ada korelasi yang terlalu erat antara jalannya sebuah demokrasi dengan tingkat kemakmuran rakyat. Karena bila demokrasi baru berjalan setelah dicapainya income per capita pada level tertentu (apalagi bila telah dipatok pada suatu nominal) maka dapat mengindikasikan bahwa demokrasi hanya menjadi milik dan hak orang yang telah makmur (orang kaya) saja. Inilah yang dikhawatirkan beliau dapat memberi pengertian yang mislead kepada masyarakat.

Apakah dengan tingkat kemakmuran yang tinggi, sebuah demokrasi dapat berjalan?
Ataukah dengan menjalankan demokrasi, akan dapat meningkatkan kemakmuran?

Menurut pendapatnya, semestinya demokrasi tidak dapat dihubungkan dengan tingkat kemakmuran, apalagi sekedar dalam skala lebih sempit berupa hitung-hitungan income per capita. Namun demokrasi memiliki kaitan erat dengan kebijakan ekonomi yang diambil dan dijalankan dengan benar, yaitu kebijakan-kebijakan ekonomi yang selalu berpihak pada rakyat.

Hal senada terlihat diamini oleh Pak Ichsan. Ada beberapa hal yang menjadikannya janggal bila demokrasi dikorelasikan langsung dengan kemakmuran, khususnya dengan income per capita, yaitu:
- secara sosiologi, demokrasi berada pada suatu tataran global, sedangkan income per capita adalah sesuatu yang sangat spesifik. Sehingga mengkorelasikan secara langsung jalannya demokrasi dengan tercapainya income per capita pada tingkat tertentu, berarti juga mengabaikan suatu jarak perbandingan yang cukup besar.
- tolok ukur demokrasi pada nominal income per capita tertentu seakan mengabaikan factor-faktor lain yang mempengaruhinya. Apakah tingkatan income per capita tersebut masih akan valid beberapa tahun mendatang? (menurut sayapun ini cukup beralasan, karena faktor-faktor seperti inflasi tentu akan berpengaruh pada kemampuan ekonomi masyarakat).
- pada kenyataannya, orang yang memiliki daya beli tinggi belum tentu ingin menggunakan suaranya sesuai dengan voice majority saat itu.
- pengertian harga secara ekonomi (dalam hal ini dapat diartikan pula sebagai transaksi) tidak sama persis dengan pengertian harga secara politik. Dalam politik maka harga yang harus dikeluarkan bisa menjadi jauh lebih besar karena ada banyak faktor, terutama yang berupa ‘intangible psychology’ yang berperan sangat besar. Secara ekonomi, umumnya yang perlu dipenuhi lebih ke arah needs (kebutuhan), sedangkan dalam politik faktor wants (keinginan) seringkali lebih dominan.
- bila tolok ukur berjalannya demokrasi adalah dari tingkat income per capita, maka hal ini juga berarti membiaskan disparitas yang ada, karena pada kenyataannya pula pemerataan income per capita dalam masyarakat tidak sama.

Dalam kesempatan malam itu, Pak Arbi lebih menekankan pada pentingnya menjadi demokrasi dan kemakmuran sama-sama sebagai tujuan yang akan dicapai. Jangan jadikan demokrasi hanya sebagai alat untuk mencapai kemakmuran.

Memang sepintas masih dapat dicari kaitan antara demokrasi dengan tingkat kemakmuran, bila dianggap demokrasi dapat berjalan lebih baik saat tingkat pendidikan masyarakat sudah cukup tinggi, yang membuat tingkat pemahaman politik masyarakat juga sudah cukup tinggi. Dimana seyogyanya kemakmuran telah tercapai untuk dapat menunjang pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tersebut.

Namun hal tersebutpun masih diragukannya akan memberikan jaminan langsung akan berjalannya proses demokrasi yang baik. Karena jalannya sebuah proses demokrasi juga ditentukan oleh behaviour (perilaku) dari para elit politik. Bila behaviour elit masih mengutamakan pengamanan kekuasaan dan penumpukan kekayaan, serta disparitas sosial ekonomi di masyarakat masih cukup besar, maka sulit untuk mengharapkan demokrasi berlangsung mulus.

Melanjutkan komentar Pak Arby mengenai behaviour elit, di forum semalam, Pak Ichsan juga menekankan bahwa demokrasi pada aspek politik dan ekonomi hanya dapat dipertemukan berdasarkan asas Share (keinginan untuk berbagi), Care (keperdulian sosial) dan Fair (terciptanya keadilan).

Pak Fadli memberi pendapat yang sedikit berbeda dengan nara sumber lainnya. Dalam hal ini beliau sepakat bahwa demokrasi memiliki korelasi erat dengan kemakmuran. Beliau berpendapat bila masyarakat masih sebatas memikirkan makan hari demi hari, maka kecenderungan yang timbul adalah tindakan anarkis. Namun beliau juga tidak setuju apabila income per capita (sebagai penanda kemakmuran) hanya dihitung berdasarakan faktor PPP (Purchasing Power Parity) karena hal ini berarti membiaskan adanya disparitas kemampuan ekonomi dan daya beli masyarakat, khususnya kesenjangan yang sangat besar antara daya beli yang kaya dengan yang miskin.

Masih menurutnya pula, dalam era globalisasi ini sesungguhnya tidak ada negara yang benar-benar fair menyikapi negara lain, karena setiap negara pasti menganut paham menyelamatkan negaranya terlebih dahulu. Sehingga praktis tidak ada negara yang berhasil menegakkan demokrasi untuk meningkatkan kemakmuran. Bahkan Amerika yang sangat menggaungkan demokrasipun sebenarnya telah gagal menegakkan demokrasi itu sendiri, terutama saat melakukan agresi ke negara-negara lain.

Sedangkan Cina terbukti berhasil meningkatkan kemakmuran masyarakatnya, tanpa meributkan bentuk-bentuk demokrasi, liberalisme, kapitalisme dsb, namun dengan menjalankan sistemnya sendiri, sosialisme a la Cina. Dan sudah terbukti pula bahwa Indonesia yang sedang bergiat dengan demokrasi liberalnya, hingga saat ini belum juga berhasil membawa kemakmuran, justru semakin melemahkan peran negara untuk kepentingan-kepentingan golongan tertentu dan bahkan pihak-pihak asing, karena tidak adanya arah & tatanan yang jelas.

Namun kemakmuran a la Cina diragukan oleh Pak Arbi dapat bertahan lama. Menurut beliau, sesuatu yang dipaksakan secara otoriter akan rentan terhadap penumpukan kekuasaan dengan tiadanya fungsi kontrol, yang hanya akan berakhir pada penyimpangan-penyimpangan dan tindakan korupsi, sebagaimana telah terjadi di Rusia.

Menjelang akhir diskusi Pak Soegeng masih tetap berpendapat bahwa tidak ada korelasi erat antara demokrasi dengan income per capita. Beliaupun mencontohkan bagaimana sesungguhnya demokrasi di Amerika lebih berjalan di masa silam, di era ‘’Wild-Wild-West’’ (menurut istilah beliau), dimana pada zaman itu masyarakat di sana baru saja memulai perjuangannya untuk hidup dan berkembang di benua baru tersebut, di saat kemakmuran belum lagi tercapai. Pada era itu bahkan istilah income per capita pun belum ada, dan bentuk perdagangan seringkali masih menggunakan system barter.

Pada sesi terakhirnya, Pak Ichsan mengatakan bahwa negara memerlukan Pemimpin yang dapat mengarahkan, mencerdaskan, menyatukan dan memihak pada kepentingan rakyat.

Dan saat diminta statement terakhirnya malam itu, Pak Arby lebih menekankan bahwa yang paling penting pada suatu negara adalah memastikan berjalannya system check & balances, adanya fungsi kontrol & arah yang jelas dari para elit politik yang didukung oleh behaviour para pemimpin.

Kira-kira seperti itulah jalannya diskusi yang saya pahami semalam (maaf bila pengutipan kata demi kata tidak tepat sama seperti yang diucapkan oleh setiap nara sumber, namun saya mencoba untuk menyarikan isi diskusi tersebut).

Sebuah diskusi yang berjalan cukup alot pada tema yang memang sulit untuk dicarikan jawabannya. Pada akhirnya merekapun sulit untuk mendapatkan suatu kesimpulan bulat bersama, apakah demokrasi memiliki korelasi erat dengan kemakmuran, terutama dari sisi income per capita. Manakah yang lebih dulu harus dicapai? Mencapai income per capita pada nominal tertentu yang berarti makmur lebih dulu baru masyarakat dapat berdemokrasi? Ataukah berdemokrasi untuk dapat menaikkan tingkat kemakmuran?

Saat ini kenyataannya tingkat kemakmuran untuk menunjang tercapainya Pendidikan Tinggi bagi seluruh rakyat, yang diharapkan dapat menaikkan tingkat pemahaman politik masyarakat agar proses demokrasi dapat berjalan baikpun tampaknya masih sangat jauh dari angan. Akses ke jalur pendidikan tinggi semakin sulit dicapai oleh rakyat kebanyakan.

Sedangkan proses berdemokrasi itu sendiri acap terlihat berjalan tanpa arah & kendali. Sekalipun kata demokrasi sering diteriakkan oleh para elit, namun di sana-sini masih kerap terlihat pengebirian terhadap proses demokrasi itu sendiri. Sulitnya akses masyarakat terhadap informasi yang benar & nyata, belum adanya transparansi menyeluruh di hampir semua lini juga merupakan cermin dari betapa proses berdemokrasi itu sendiri masih jalan di tempat.

Betapapun tema ini menarik untuk direnungkan lebih mendalam, apalagi Pemilu yang sejatinya merupakan Pesta Demokrasi sudah di depan mata. Menyimak di tahun-tahun terakhir berbagai elemen bangsa ini sibuk meneriakkan kata demokrasi (walau sering terlihat tanpa paham benar arti sesungguhnya dari demokrasi itu sendiri). Namun kemakmuran yang didambakan, khususnya bagi sebagian besar masyarakat kebanyakan, sepertinya tidak mengalami kemajuan berarti, setidaknya hanya jalan ditempat.

Maka pertanyaan selanjutnya yang mengusik benak saya adalah:

Apa sebetulnya tujuan utama yang ingin dicapai negara ini?

Apa sebenarnya masalah mendasar yang mendesak untuk dicarikan solusinya?

yang pada akhirnya bottom line dari semua pertanyaan itu adalah:

Hendak dibawa kemana bangsa ini?

Pagi ini saya membaca berita di Kompas.com pada kolom Ekonomi dengan judul ‘’Rakyat Jangan Diberi Harapan Terlalu Tinggi’’. Pada berita tersebut disebutkan bahwa ada ‘’gap’’ atau jarak yang cukup besar antara persepsi masyarakat dengan data makro perekonomian nasional yang mencerminkan tahun 2008 lebih baik dari tahun sebelumnya.

Berikut saya kutipkan sebagian berita tersebut:

Adanya "gap" atau jarak pemisah itu, karena pemerintah, utamanya para menteri di bidang ekonomi dan keuangan sering memberikan harapan kepada masyarakat terlalu tinggi, demikian rangkuman kesimpulan dari para pengamat ekonomi, seperti Dr. Hadi Soesastro, Dr. Umar Juoro dan Dr. Pande Radja Silalahi mengomentari presentasi evaluasi ekonomi 2008 dan prospek tahun 2009 oleh Menko Perekonomian yang merangkap Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Senin (5/1) malam.

Menurut Hadi Susastro, Direktur Centre For Strategic and International Studies (CSIS), masyarakat yang tinggal di perkotaan dan perdesaan, hanya melihat kejadian dan kenyataan di sekeliling mereka.

"Saat ini masyarakat merasakan, harga bahan pokok cukup mahal, pendapatan tidak merata, dan dimana-mana terjadi keresahan soal ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari pemberi kerja. Kondisi seperti itulah yang dirasakan masyarakat, sehingga meskipun pemerintah menyajikan data makro perekonomian cukup baik, masyarakat tidak meresponnya," katanya.

Hadi Soesastro mengakui, kinerja perekonomian nasional dilihat dari pertumbuhan secara makro cukup baik, tetapi hal itu tidak otomatis merepresentasikan kehidupan masyarakat juga tambah membaik.

"Saya melihat, jumlah pengangguran 2008 lebih rendah hanya mencapai 8,4 juta jiwa atau turun dari 9,11 juta pada 2007. Demikian juga angka kemiskinan, terjadi perbaikan dari tahun sebelumnya, namun hal itu tidak dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas, karena distribusi pendapatan tidak merata," katanya.

Umar Juoro dari The Habibie Center menambahkan, persepsi di masyarakat terhadap pencapaian kinerja perekonomian nasional, tidak seperti yang disampaikan oleh Menko Perekonomian itu.

"Ada gap persepsi masyarakat dengan data yang disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian itu, seperti pemberian subsidi minyak tanah dan bensin, tetapi di lapangan sulit dicari, subsidi pupuk, tetapi di pasaran tidak ditemukan. Demikian juga adanya dana Rp 51 triliun untuk stimulus ekonomi, namun bagaimana cara membaginya sampai saat ini belum jelas dan tuntas," katanya.

Menurut Umar, adanya gap persepsi itu karena pemerintah hanya mengandalkan pada pencapaian angka-angka yang tampak bagus-bagus tetapi tidak dapat merepresentasikan kehidupan masyrakat secara riil.

Oleh karena itu, untuk melihat prospek ekonomi 2009, sebaiknya para menteri di bidang ekonomi tidak hanya mengandalkan pada hitungan angka semata, tetapi melihat apakah kebijakan yang disampikan itu dapat "membumi" atau tidak.

Hal senada juga disampaikan pengamat ekonomi dari CSIS, Dr. Pande Radja Silalahi yang mengatakan, pemerintah tampaknya hanya menjaga image, bahwa pertumbuhan ekonomi secara makro baik, tetapi sesungguhnya tidak dapat menjawab bagaimana mengatasi pengangguran dan menekan jumlah angka kemiskinan.

Defisit APBN 2009 hanya satu persen, menunjukkan tidak adanya dorongan untuk membuka peluang tenaga kerja secara luas. Apa salahnya meningkatkan defisit 2 sampai 3 persen dalam APBN 2009, tetapi defisit itu untuk membuka lapangan tenaga kerja dan membangun infrastruktur dibidang pertanian dan perkebunan.

Menteri Koordinator Perekonomian, Sri Mulyani Indrawati, di hadapan para pengamat dan pimpinan mass media mengatakan, perekonomian dunia sepanjang tahun 2008 mengalami gejolak yang luar biasa, tetapi pemerintah masih dapat menangani dampak krisis ekonomi itu secara baik.

Hal itu dapat dilihat dari data perekonomian makro seperti, tingkat inflasi lebih rendah dari asumsi pemerintah menjadi 11,06 persen, cadangan devisa terus naik menjadi 51,0 miliar`dolar`pada triwulan IV 2008.

Di sektor tenaga kerja, tingkat pengangguran selama empat tahun terakhir terjadi penurunan dari 11,24 juta tahun 2005 menjadi 8,46 juta orang pada 2008. Sementara jumlah kemiskinan juga terus mengalami penurunan meskipun tipis, dari 35,1 juta jiwa tahun 2005 menjadi 35,0 juta jiwa tahun 2008.

Begitulah kenyataan yang terbentang.

Bila demikian…

Apa yang harus dicapai lebih dulu? Demokrasi atau Kemakmurankah?


Sejatinya proses demokrasi memang merupakan bentuk ideal bernegara. Sehingga bila negeri ini sudah menjalankannya tentu tidak boleh mundur dengan mengebirinya kembali. Untuk itu diperlukan fungsi kontrol bagi berjalannya proses demokrasi yang benar serta pemimpin dan para elit yang dapat menjadi panutan dalam berdemokrasi, yang tercermin di setiap gerak langkah mereka, bukan sebatas wacana & opini, atau teriakan nyaring mengusung demokrasi saat berkampanye.


Semestinya pula demokrasi dan peningkatan kemakmuran tidak boleh hanya sekedar dijadikan sebagai alat ataupun prasyarat untuk mencapai suatu tujuan lain. Karena bila hanya sebatas alat, maka ketika tujuan telah tercapai, alat tidak lagi diperlukan.


Sehingga berjalannya proses berdemokrasi tidak hanya terlihat pada saat eforia Pesta Demokrasi saja, namun telah menjadi keseharian dalam perjalanan negeri ini.


Jangan pula, para elit & pemimpin negara ini terlalu larut dalam hiruk pikuk Pesta Demokrasi, sehingga melupakan upaya pencapaian kemakmuran yang merata bagi seluruh lapisan rakyat, bukan sekedar peningkatan perekonomian yang dinikmati segelintir kalangan.


Sebuah peningkatan kemakmuran yang tidak sebatas pada olahan hitung-hitungan angka ataupun sajian data-data (yang bahkan sulit dimengerti oleh sebagian besar masyarakat yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan yang layak). Namun kemakmuran yang benar-benar dapat dirasakan secara nyata oleh setiap rakyat dalam kehidupannya di negara ini.


Tegaknya berdemokrasi di segala bidang dan peningkatan kemakmuran bagi seluruh rakyat negeri ini, haruslah sama-sama menjadi perhatian untuk dijalankan dan dicapai.



-PriMora Harahap-

6 Jan 2009

note:
tulisan ini dipostingkan juga di blog Kompasiana (Kompas.com) dan Detik blog (Detik.com) pada kategori politik & bernegara, serta di Mora's blog

Minggu, 04 Januari 2009

It's Quite Amazing !

Mengawali tahun 2009, sebagaimana juga di tahun-tahun sebelumnya, Ananda Sukarlan (seorang pianis dan komponis kenamaan asal Indonesia yang telah lama melanglang buana dan kini bermukim di Spanyol) kembali pulang kampung, untuk menggelar New Year’s Concert. Konser yang kali ini diberi nama : ‘’Java New Year’s Concert – Pianississimo ‘’ merupakan rangkaian konsernya di 3 kota, yaitu Magelang, Yogyakarta dan berakhir di Grha Bhakti Budaya – Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada malam ke 4 bulan pembuka tahun ini.

Saya berkesempatan menyaksikan konsernya yang diselenggarakan di Jakarta semalam, yang terbagi dalam 2 bagian. Bagian pertama berisikan permainan piano Ananda atas sejumlah komposisi yang sebagian besar terilhami oleh karya-karya indah para pekerja seni dunia maupun Indonesia.

Ananda membuka konser dengan sebuah gubahan Maurice Rabel berjudul ‘’Menuet sur le non d’Haydn”. Ya, Ananda memang bermaksud mengkhususkan pula bagian pertama konsernya ini sebagai tribute kepada Joseph Haydn, seorang komponis klasik yang sangat mahsyur dengan karya-karya emasnya. Sehingga iapun segera melanjutkan persembahan ke dua dengan komposisinya sendiri yang diciptakan untuk permainan piano menggunakan tangan kiri saja (for left hand only) bertajuk ‘’Haydn Seek’’. Sajian ke 3 pun masih ditujukan untuk mengenang Haydn dengan permainan ‘’Sonata’’ buah karya Haydn sendiri. ‘’Sonata’’ yang cukup sulit ini dimainkan dengan indah oleh pemenang ke 3 Ananda Sukarlan’ award, Randy Ryan. Sebuah permainan piano yang mempesona, dengan tingkat kesulitan cukup tinggi dimainkan oleh anak berusia 13 tahun. Lazimnya komposisi ‘’Sonata’’ dari Haydn tersebut baru laik dimainkan oleh pianis dewasa yang telah memiliki jam terbang tinggi.

Ihwal Ananda Sukarlan’ award yang diadakannya pada pertengahan tahun 2008 lalu, iapun bertutur bahwa kompetisi itu memang diharapkannya dapat menjadi sebuah ajang pencarian pianis-pianis muda berbakat dari tanah air tercintanya ini. Dari kompetisi itu kemudian ditemukannya enam orang pianis muda dengan bakat yang sungguh mengagumkan, yang juga menjadi penampil pada konsernya malam itu. Ananda memang satu dari sangat sedikit dari orang di negeri ini yang sangat perduli akan pengembangan generasi muda maupun pelestarian karya-karya besar para seniman di negerinya.

Melanjutkan bagian pertamanya, Ananda pun berkisah mengenai lagu yang akan dimainkannya kemudian. Sebuah komposisi yang tercipta pada medio tahun 2004, terinspirasi dari berita yang ia saksikan mengenai terpilihnya kembali GW Bush sebagai Presiden Amerika saat itu. Berita yang sangat menyedihkan hatinya menggerakkannya menggubah sebuah karya berjudul ‘’I Sit and Look Out’’ yang liriknya diambilnya dari sebuah puisi kelam berjudul sama karya Walt Whitman. Puisi ini dianggapnya cocok untuk menggambarkan situasi dunia yang penuh dengan centang prenang yang kelabu. Sebuah cerminan rasa dukacita yang mendalam atas terpilihnya seorang pemimpin negara adidaya, yang gemar melancarkan agresi militer ke sejumlah negara, yang ‘’buah karyanya’’ kini terbukti memporakporandakan, tidak saja stabilitas negaranya namun juga tatanan perekonomian dunia.

Beberapa lagu berikutnya merupakan bagian dari kumpulan lagu ‘’Nyanyian Malam’’ yang diciptakan Ananda sejak tahun 2006, yang kembali terilhami oleh puisi-puisi buah karya berbagai penyair negeri ini. Dimulai dengan komposisi ‘’Tidurlah Intan’’ dari puisi WS. Rendra, dilanjutkan berturut-turut dengan lagu ‘’In Solitude’’ (karya Medi Loekito) dan ‘’Meninggalkan Kandang’’ (ciptaan Eka Budianta). Permainan piano Ananda mengiringi bait-bait puisi tersebut dilantunkan lewat suara bening Bernadette Astari, seorang soprano Indonesia yang pergi ke Belanda sejak tahun 2006 untuk memperdalam teknik olah vokalnya. Puisi ‘’Meninggalkan Kandang’’ digubahnya menjadi lagu persembahan khusus bagi almarhum Prof. Fuad Hasan, yang telah berjasa membantunya mendapatkan beasiswa ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan bermusiknya ke jenjang lebih tinggi 23 tahun lalu. Syair-syair dalam puisi tersebut dirasakannya sangat sesuai dengan perjalanan hidupnya saat itu, yang ingin terbang tinggi bagai seekor burung camar menggapai angan dan citanya.

Masih berasal dari kumpulan lagu ‘’Nyanyian Malam’’, Ananda mempersembahkan 4 lagu berikutnya yang juga digubahnya berdasarkan larik-larik puisi, dengan tajuk : “Kasih’’ (dari puisi Chendra Panatan), Di depan sebuah Lukisan (hasil cipta Ook Nugroho), ‘’Nepi, Nyepi’’ (buah karya Hasan Aspahani) dan ‘’Nostalgia’’ (sebuah puisi Eka Budianta).

‘’Dalam Do’aku’’ yang dipentaskan berikutnya, dinyanyikan duet oleh Bernadeta Astari dan Joseph Kristanto, seorang penyanyi baritone yang mengenyam pendidikan menyanyinya di Jerman. Lagu ini merupakan sebuah karya Ananda yang diambil dari cantata ‘’Ars Amatoria’’ yang direkamnya tahun lalu.

Bagian ke dua dari konser inilah yang sesungguhnya merupakan pencerminan dari judul konser itu sendiri : ‘’Pianississimo’’, yaitu permainan piano yang dilakukan secara bersamaan oleh banyak pianis, banyak tangan. Sebuah bentuk permainan piano yang baru pertamakalinya diadakan di dunia. Dimana para pemain piano yang mengambil bagian pada babak ini adalah para pianis muda berbakat dari ajang kompetisi Ananda di tanah air pertengahan tahun lalu. Decak kagum tak henti-henti menyaksikan bagian dimana kepiawaian tangan-tangan mereka ‘menari-nari’ di atas tuts piano - sendiri, berdua, beramai-ramai – mengolah notasi demi notasi, setiap nada dalam partitur menjadi sebuah alunan denting piano yang sungguh membuai.

Komposisi berjudul : ‘’The Humiliation of Drupadi’’ diciptakan Ananda untuk permainan 2 piano secara duet, mengawali bagian ke dua konser ini. Gubahan yang diambil dari mitologi Jawa dan kental dengan irama musik tradisional Jawa ini dimainkan dengan sangat apik oleh 2 orang pianis muda berbakat. Mereka adalah Victoria Audreay Sarasvathi, finalis Ananda Sukarlan’ award, yang baru berusia 11 tahun dan Randy Ryan, pemenang ke 3 pada award yang sama di usianya yang ke 13. Sebuah pentas tari yang dirancang oleh Chendra Panatan selaku koreografer melatari persembahan ini.

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Lukisan indah karya Titian, seorang seniman Italy, yang diberi judul : ‘’Bacchus & Ariadne’’, bercerita mengenai penyelamatan Ariadne, seorang putri jelita. Begitu indahnya lukisan ini bagi Ananda sehingga memberinya inspirasi untuk menciptakan sebuah komposisi bertajuk : “Rescuing Ariadne’’. Komposisi ini dimainkan dalam bentuk duet tiupan indah flute oleh Elizabeth Ashford, yang saat ini bekerja sebagai guru musik di British International School dan dentingan piano Alfred Young Sugiri, pianis muda yang ditemukan Ananda pada ajang kompetisinya di awal paruh ke dua tahun lalu.

Kado memang tidak melulu harus berupa natura ataupun dinilai dengan uang. Karya seni yang indah bahkan dapat menjadi kado yang menginspirasi penerimanya. Begitupun sebuah puisi dengan bait-bait yang menggugah, yang diciptakan khusus oleh penyair tersohor negeri ini, Sapardi Djoko Damono sebagai kado darinya untuk Andy (nama kecil Ananda). Kado bertajuk : ‘’4 Sonet untuk Andy, Pengamen’’ itu kemudian digubah oleh sang penerimanya sendiri menjadi sebuah komposisi indah, tanpa syair. Kali ini puisi yang mengilhaminya memang tidak dijadikannya syair bagi gubahannya, karena bagi Ananda keindahan puisi itu sendiri sudah tercermin dalam komposisi yang terlahir darinya. Inge Melanie Buniardi, yang berhasil keluar sebagai pemenang utama dalam Ananda Sukarlan’ award mendapat kesempatan untuk memainkan komposisi ini.

Rangkaian permainan cantik para pianis muda itu ternyata belumlah merupakan puncak kejutan dalam konser semalam. Sebuah kejutan yang lebih dahsyat – setidaknya bagi saya – tatkala Ananda mengatakan bahwa komposisi berjudul “Fantasi’’ yang akan dipentaskan berikutnya merupakan hasil karya dari seorang komponis muda negeri ini yang baru berusia 15 tahun bernama Andhanu Candana. Hepp..! Saya terperangah mendengarnya. Usia 15 tahun!! Oh My God! What a talented boy! Saya sungguh tak habis kagum mendengar ada seorang anak yang mampu menciptakan sebuah komposisi klasik, yang bahkan untuk sebagian besar orang sekedar memainkannya saja sudah sulit. ''Ini dia calon Mozart dari Indonesia'', pikir saya. Dan terasa semakin mengagumkan ketika mengetahui bahwa diusianya yang masih begitu belia, Andhanu menciptakan komposisinya untuk permainan duet pada 1 piano atau dengan kata lain 4 tangan pada 1 piano! It’s quite Amazing! Sebuah komposisi yang tergolong cukup rumit itu, kemudian mengalun indah dari permainan piano Victoria Audrey Sarasvathi dan Randy Ryan.

Pentas malam itu akhirnya ditutup dengan gubahan Ananda yang diberi nama : ‘’Schumann’s Psychosis’’. Komposisi yang menggambarkan kompleksnya penyakit psikosis yang diderita oleh Schumann seorang komponis klasik yang tersohor pada zamannya. Penyakit itu telah membuat Schumann mengalami perpecahan jiwa hingga memiliki multi personalitas (kepribadian ganda).

Sajian terakhir ini, adalah puncak dari keseluruhan konser malam itu, yang merupakan pengejawantahan dari tajuk konser ini : Pianississimo !


Multi personalitas Schuman dituangkan Ananda dengan cantik dalam bentuk komposisi yang terdengar ‘’ramai’’ melalui permainan 3 piano 12 tangan. Sebanyak 60 jari jemari bergerak lincah di atas tuts-tuts 3 piano. Pada puncak acara ini, ke 6 finalis dan pemenang Ananda Sukarlan’ award bermain bersama, mempersembahkan masterpiece malam itu yang merupakan permainan piano dengan banyak tangan secara bersama-sama yang pertama kali diadakan dunia ini. Sebuah harmonisasipun tersaji. Sungguh mengagumkan!

Tingkat kesulitannya tentu tidak perlu dipertanyakan lagi. Hanya mereka yang benar-benar mahir saja yang mampu menyajikannya dengan begitu apik & rapi. Sekedar mahirpun tentulah belum cukup. Butuh koordinasi dan konsentrasi sangat tinggi untuk memainkan sebuah komposisi klasik beramai-ramai secara bersamaan. Sebuah karya tari Chendra yang menggambarkan ‘’kompleksitas’’ kejiwaan Schuman melalui 3 orang penarinya, melatari permainan Pianississimo ini.

Di akhir acara, panitia pun memanggil sejumlah nama donatur - yang telah mendonasikan sejumlah dana untuk beasiswa bagi para finalis dan pemenang Ananda Sukarlan’ award – tampil ke pentas memberikan karangan bunga bagi para penampil malam itu. Anandapun memanggil komponis muda kebanggaannya malam itu, Andhanu Candana untuk turut naik ke pentas menerima penyerahan bunga darinya.

Saya sungguh tak bisa menahan rasa penasaran yang telah sedemikian menggebu ingin mengetahui sosok seorang Andhanu, sejak dimainkannya komposisi milik anak belia ini. Wow! Seorang anak yang masih sangat muda – perkiraan saya masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama – naik ke atas pentas memenuhi panggilan Ananda. Dengan tampilan yang begitu apa adanya, sangat khas anak muda, hanya menggunakan kemeja lengan pendek, dialah sang komponis muda yang mengagumkan dengan karya indahnya untuk permainan 1 piano 4 tangan itu. Sepintas terlihat seperti kebanyakan anak-anak seusianya, tak ada yang spesial dari penampilannya. Namun, siapa nyana, di usianya ini ia sudah mampu menciptakan sebuah karya yang sungguh Fantastis!


Saya tinggalkan Graha Bhakti Budaya semalam dengan rasa kagum yang kian membuncah, bagai tak habis-habis.

Rasa kagum akan bibit-bibit muda berbakat yang ternyata banyak dimiliki oleh negeri ini. Rasa kagum yang tak pelak disertai juga oleh rasa trenyuh, betapa mungkin masih ada lebih banyak lagi bibit-bibit muda berbakat di bidang-bidang lain yang belum tersentuh karena kurangnya perhatian yang serius dari negara tempat mereka bernaung, negara yang semestinya menjalankan peran menggali & mengembangkan bakat-bakat yang mereka miliki. Rasa kagum atas segala usaha dan jerih payah Ananda yang berinisiatif menyelenggarakan kompetisi dan konser ini demi mendapatkan dan mengembangkan bibit-bibit muda di bidang yang dikuasainya.

Ananda Sukarlan adalah satu dari segelintir orang muda Indonesia yang bangga akan kebesaran seni-budaya bangsanya dan selalu perduli untuk berupaya melestarikannya. Ia kerap mengangkat karya-karya besar seniman milik negeri ini di setiap konsernya di seluruh penjuru dunia, yang bahkan negeri inipun acap tidak memberi ruang untuk para senimannya sendiri. Ia kini tengah berupaya mengumpulkan kembali serpihan-serpihan partitur maupun komposisi karya seniman besar bangsanya agar tidak punah tertelan waktu. Sungguh sebuah upaya yang tidak mudah dan sangat membanggakan.


Betapapun telah sekian lama ia meninggalkan negeri ini, bermukim di negara lain demi mengembangkan karirnya, namun ia tak pernah melupakan tanah air tempat ia dibesarkan. Setelah meluncurkan serangkaian rekaman akan lagu-lagu tradisional Indonesia yang digubahnya kembali bersama Trisutji Kamal, setelah mengangkat kembali sejumlah karya Amir Pasaribu - seorang komponis besar milik bangsa ini, setelah tahun lalu memainkan sejumlah komposisi berdasarkan puisi-puisi indah karya penyair Sapardi Djoko Damono, setelah menggubah sekian banyak komposisi yang terinspirasi dari buah karya seniman-seniman besar negeri ini, kini Ananda Sukarlan kembali lagi dalam format lain yang tetap mengusung cita-cita mulianya, mengangkat dan mengembangkan karya seni, baik dari seniman besar maupun generasi penerus di negeri tercintanya ini.


Bravo! Keep on working Ananda!

Negeri ini membutuhkan orang-orang seperti anda, yang perduli & terjun langsung pada upaya pengembangan bangsanya, bukan yang sekedar ‘’sibuk’’ mengumbar janji & wacana tanpa bukti & karya nyata.



-PriMora Harahap-


5 Jan 2009


note:
tulisan ini dipostingkan juga di blog Kompasiana (Kompas.com) dan Detik blog (Detik.com) pada kategori seni-budaya, serta di Mora's blog.

Selasa, 30 Desember 2008

Waktu (Selamat Tahun Baru)


Waktu…

kadang tak lebih dari sekedar satuan

penanda panjang pendeknya proses berjalan

Waktu…

kerap menjadi batas-batas

penanda sebuah pembaharuan dicanangkan

Waktu…

sering tak disadari

tlah berlalu tanpa arti

Waktu…

acap diagungkan demikian penting

hingga dimaknai layaknya investasi

Waktu…

akankah dapat manusia sadari

bila waktu untuknya kan berakhir

Waktu…

mungkinkan dapat terbayangkan

berapa lama masih tersisa

Waktu…

sejatinya sebuah misteri tak berbatas

yang diperlakukan sebagai pembatas

Waktu…

semestinya tak membatasi

setiap resolusi tuk diawali

Karena…


Waktu…

tak kan pernah berhenti

menanti manusia bersiap diri


Waktu…

kan tetap trus berjalan

tanpa dapat tertahankan

Kini…


Waktu…

penanda penghujung tahun

kan bermulanya awal tahun

Waktu…

ah… berapa banyak tlah terbuang

tanpa makna bagi sesama

Namun…


Waktu…

adalah pula alat pembenaran

tuk kegagalan yang tercipta

Waktu…

pun alibi yang jitu

tuk penundaan ke tahun yang baru

Waktu…

bila tlah berlalu

berujung pada sesal nan pilu

Waktu…

jangan jadikan penghalang

tuk setiap kebajikan & pertobatan

Waktu…

tlah tiba di penghujung tahun yang biru

jelang tahun yang baru

Waktu…

harapkan tak lagi membelenggu

pengekang daya tak berwujud

Waktu…

citakan sbagai pemicu

setiap langkah tuk maju


-PriMora Harahap-


30 Des 2008


note:
dipostingkan juga di Detik blog (Detik.com) pada kategori seni-budaya.

Renungan Akhir Tahun


Sungguh tahun yang sendu

penuh guratan kelabu

berkubang pilu

Sungguh tahun sarat gambaran

hikayat akan ketamakan

tirani nafsu tak terkekang

Sungguh tahun penuh derita

penindasan tak berdasar

atas nama penyelamatan

Sungguh tahun sesak potret buram

sejarah peradaban manusia

dengan segala keangkuhannya

Sungguh dunia kini terpaku

dalam bisu dan kelu

ratapi sesal menggayut

Sungguh sebuah kedigdayaan

tlah berganti keterpurukan

saat semesta alam tebarkan amarah

Sungguh sebuah kenistaan

tatkala manusia dipaksa menyerah

diujung ketakberdayaannya

Begitupun…


Sungguh manusia tak pernah bisa berkaca

akan apa yang tlah mendera

sangkal semua yang tlah melanda

Sungguh sebuah catatan kelam

akan kepongahan manusia

kembali tertoreh di penghujung kala

Sungguh akankah hanya berakhir

bila laknat tlah menghampiri

dan murka Sang Maha Penguasa sadarkan diri


-PriMora Harahap-


30 Des 2008


note:

didedikasikan bagi mereka yang menjalani tahun dengan penuh derita, khususnya bagi mereka yang menutup tahun dalam gelimang darah & derai air mata di Gaza.

Rabu, 24 Desember 2008

Puisi dan Lagu Sarat Makna…

Sebuah catatan masih tercecer dari acara yang diselenggarakan semalam sebelum penutupan program World Music Festival 2008 – GKJ. Tepat pada malam ke 16 di bulan Desember lalu, sebuah kolaborasi pembacaan puisi & nyanyian, diberi titel ‘’Generasi Dalam Dialog’’, hadir dengan iringan Skolastika Ansamble yang dikomandani oleh Marusya Nainggolan.

Binu Sukaman, salah satu penyanyi seriosa terbaik milik negeri ini, membuka acara dengan lagu “Ibu Pertiwi”. Lagu tersebut terasa begitu menggambarkan kondisi negeri tercinta ini. Betapa Ibu Pertiwi kini sedang bersusah hati… merintih dan berdo’a… melihat proses penzaliman tanpa kendali atas simpanan kekayaan alam negeri ini… hutan, gunung, sawah & lautan… yang acap hanya untuk kemakmuran segelintir golongan… tanpa pernah kembali untuk dinikmati oleh bangsanya…


kulihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
air matamu berlinang
mas intanmu terkenang

hutan gunung sawah lautan
simpanan kekayaan
kini ibu sedang susah
merintih dan berdoa

kulihat ibu pertiwi
kami datang berbakti
lihatlah putra-putrimu
menggembirakan ibu

ibu kami tetap cinta
putramu yang setia
menjaga harta pusaka
untuk nusa dan bangsa


Duhai ibu pertiwi… takkan heran pabila dikau bersusah hati… berlinang air mata… menyaksikan betapa kini lebih banyak yang merambah harta pusaka ketimbang menjaganya…

Pada penggalan pertama acara ini, serangkaian puisi bertema kepedulian lingkungan, keprihatinan serta kritik sosial karya Taufik Ismail dibacakan sendiri oleh empunya.

Taufik Ismail dengan lantang membacakan puisi pertamanya berjudul ‘’Beri Aku Sumba’’ yang bercerita tentang keindahan alam Sumba. Kerinduan ribuan kuda-kuda Sumba akan pegunungan yang indah… menyadarkan kembali akan betapa indahnya alam negeri ini. Negeri yang dikaruniai dengan begitu banyak kekayaan alam & pemandangan alam yang begitu indah. Tidak kalah indah, bahkan jauh lebih indah dari negeri lainnya.

Sebuah lagu lawas ciptaan Ibu Sud berjudul ‘’Tanah Airku’’ yang terlantun lewat bening suara Binu Sukaman jelas menggambarkan keindahan negeri ini lewat lirik demi liriknya.


Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan


Sejatinya dengan menjaga kelestarian alam negri inilah, bangsa ini dapat menghargainya. Hanya yang terjadi, kerap kali keserakahan duniawi meluruhlantakkan keindahannya. Hingga tinggalah hutan-hutan gundul, lubang-lubang tambang menganga hasil eksploitasi alam tanpa batas…

Sejatinya pula negeri ini subur makmur… gemah ripah loh jinawi… sebelum bentangan & hamparan sawan nan hijau berubah rupa berganti belantara beton nan menjulang tinggi, yang atas nama pembangunan seakan ''merestui'' setiap langkah pemuka negeri ini untuk mengkomersilkan setiap jengkal lahan yang ada.

Kiranya petinggi negeri ini perlu meresapi kembali bait demi bait lagu ‘’Serumpun Padi’’ karya Maladi yang mahsyur itu.


Serumpun padi tumbuh disawah
Hijau menguning daunnya
Tumbuh di sawah penuh berlumpur
Dipangkuan ibu pertiwi

Serumpun jiwa suci
Hidupnya nista abadi
Serumpun padi mengandung janji
Harapan ibu pertiwi


Puisi berikut yang diberi tajuk “Saya Mendengar Orang-orang Bernyanyi” dimaksudkan untuk menggambarkan dedikasi segelintir seniman pada dunia kesenian. Harry Roesli yang (semasa hidupnya) rajin – tanpa pernah putus semangat – selalu berupaya ‘menjahit setiap robekan akibat luka politik’ menggunakan benang-benang notasi musik dan bait-bait lagunya. Iwan Fals yang kerap menunjukkan kepedulian & kritik sosialnya. Begitu pula dengan kehadiran Franky S, Chrisye (yang kerap menyadarkan kita akan cinta kasih), Ebiet G Ade yang acap bercerita tentang alam dan kehidupan maupun Bimbo yang dengan kerinduan dan kecintannya pada Tuhan. Mereka, melalui cara bermusik masing—masing telah menghadirkan begitu banyak warna & makna… bila saja kita dapat meresapinya…

“Sajak Tentang Anak Muda Serba Sebelah’’ merupakan ungkapan keprihatinan Taufik Ismail akan dunia pendidikan negeri ini. Bercerita mengenai mimpi seorang anak muda dengan segala keterbatasannya untuk mendapatkan kesempatan pengembangan diri... untuk sekedar dapat mewujudkan mimpinya yang sederhana… menjadi seorang supir… Tapi apa daya… keterbatasan telah membatasi dirinya untuk menggapai mimpi-mimpinya… Begitulah kiranya gambaran pengembangan generasi muda negeri ini.

Program pencerdasan bangsa kiranya berjalan jauh lebih lambat dibandingkan dengan program ‘’pembodohan’’ bangsa. Tak heran bila melihat begitu banyak terjadi degradasi moral. Guru yang melecehkan muridnya, murid yang mengancam sesama murid, sudah bukan berita aneh lagi.

Cerita mengenai tauladan kedermawanan orang-orang besar di jamannya, dalam bentuk penggambaran warisan yang mereka tinggalkan saat kembali ke haribaan Illahi, dituangkan dalam ‘’Sajak Tentang Kedermawanan’’. Melalui sajak ini, Taufik Ismail bertutur bagaimana pemimpin-pemimpin terhormat di masa lampau di saat wafatnya hanya meninggalkan warisan yang sangat sedikit karena telah mendermakan begitu banyak harta mereka sepanjang hidup. Bahkan Sultan Salahudin tidak meninggalkan apapun di hari ‘’kepulangannya’’. Sesuatu yang sulit ditemui di zaman yang penuh dengan Hedonisme ini. Zaman di mana para konglomerat & pejabat berlomba-lomba sibuk menimbun harta dengan menghalalkan segala cara, agar dapat mewarisi kekayaan hingga lebih dari tujuh turunan.

‘’Sajadah Panjang’’, sebuah karya Taufik Ismail yang popular sebagai syair lagu Bimbo, bertutur mengenai ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya, di sepanjang hidupnya, sejak dari masih dalam buaian hingga tepi kuburan... ketaatan seorang hamba akan perintah Tuhannya karena teringat bahwa suatu saat akan menuju ke tepi kuburan…

Keprihatinan Taufik pada kebakaran hutan yang kerap terjadi tanpa ada pihak yang perduli untuk melakukan upaya menanggulanginya, digambarkannya melalui sajak “Air Kopi Menyiram Hutan’’. Sungguh sebuah gambaran nelangsa… tentang kebakaran hutan… atau ‘’pembakaran hutan’’ negeri ini…

Sebuah sajak dengan aura sarat kegetiran, perihal buruknya kualitas materi program-program tayangan di stasiun-stasiun televisi yang semakin bertambah banyak, diberi judul ‘’Pelajaran Membunuh Orang’’. Melalui sajak ini Taufik menggambarkan betapa melalui siaran televisi berbagai saluran, orang dapat belajar apa saja – termasuk belajar cara membunuh orang. Saat mendengarkan sajak ini, masih terekam jelas di benak saya, berita-berita mutilasi yang semakin marak terjadi, ternyata terinspirasi dari siaran-siaran televisi.

Bagaimana seorang wanita dengan nada yang datar namun sangat jelas terdengar mengakui bahwa dia tergerak untuk memutilasi suaminya setelah melihat suatu siaran di televisi.

Belum lagi lagak gaya anak-anak usia sekolah yang saling menggertak sesamanya karena mencontoh adegan bullying yang bertebaran di berbagai sinetron-sinetron itu. Bukan… bukan hanya pelajaran menggertak sesama pelajar… namun juga ketidaksantunan menggertak orang yang lebih tua kerap tersaji lewat layar kaca.

Tawuran yang telah menjadi ‘’budaya’’ bangsa ini, acap pula tertayang di televisi. Tidak lagi terbatas pada anak sekolah, tapi telah merambah menjadi tawuran antar warga... antar orang-orang tua yang sejatinya harus memberi contoh tauladan bagi generasi yang lebih muda.

Sesungguhnyalah telah berjalan sebuah program ‘’pembodohan’’ bangsa yang berkesinambungan... setiap hari… tanpa henti… lewat layar kaca di rumah setiap penduduk negeri ini… Oooh… kiranya mau dibawa kemana bangsa ini ?

Kebesaran Laksamana Cheng Ho tertuang dalam sajak “Sembilan Bait Nyanyian untuk Cheng Ho’’. Berkisah tentang seorang pelaut Tionghoa beragama Islam yang telah menjelajahi begitu banyak daratan, begitu luas samudra… namun tak pernah sekalipun berniat untuk menjajah… karena sadar bahwa setiap bangsa berhak memiliki kebebasannya. Sajak ini ditulis oleh Taufik Ismail 14 tahun lalu dan sempat dibacakannya di sebuah Masjid di kota kelahiran Cheng Ho.

‘’Kupu-kupu Dalam Buku’’ merupakan sajak terakhir pada penggalan pertama acara ini. Mengungkapkan kerinduan Taufik akan menjadi bagian dari sebuah bangsa yang sadar membaca. Ilustrasi mengenai anak-anak muda yang dilihatnya membaca buku di stasiun-stasiun, di dalam kendaraan umum, dimanapun mereka berada. Antrian orang-orang muda di toko-toko buku, yang mengular sepanjang waktu. Hingga pertanyaan seorang anak tentang kupu-kupu kepada ibunya yang dijawab setelah sang ibu membaca ensiklopedia... tertuang dalam sajak ini. Dimana setiap bait sajak selalu di akhirinya dengan kalimat “Di negeri mana aku berada ?’’ Sepertinya Taufik Ismail ingin menyampaikan bahwa kondisi negeri itu bukanlah kondisi yang dapat ditemui di negeri ini.

Bagian ke dua di isi oleh sajak-sajak bertema Kepahlawanan ini dibuka dengan pembacaan sajak ‘’Ziarah ke Kubur Syekh Yusuf’’, seorang sufi pemberani, pahlawan negeri ini yang tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi imam di Masjidil Haram – Makkah. Begitu gigih berjuang melawan Belanda memperebutkan kemerdekaan tanah air tercinta hingga akhirnya dibuang ke Seylon & Afrika Selatan.

‘’Resepsi Baca Puisi di Balai Kota Rotterdam’’ merupakan puisi berikutnya yang berkisah tentang kegalauan hati Taufik akan kubur Haji Miskin, pejuang asal Sumatra Barat, yang tak ketahuan kuburnya hingga saat ini. Kegalauannya itu dituangkannya dengan halus namun gamblang melalui bait-bait sajaknya pada sebuah resepsi di Rotterdam, di mana berkumpul penyair-penyair dari seluruh dunia. Simak gambaran satir yang coba disampaikan dengan jenaka… ‘’Attention… attention… seraya mengetuk gelas untuk meminta perhatian seluruh hadirin’’. Lalu diikuti oleh tanya menggugat… ‘’Apakah ada kakek-kakek kalian yang pernah ikut bertempur saat perang Padri di negeri saya dan mengetahui mengenai penggantungan kakek datuk saya ?’’. Seraya buru-buru menambahkan, bahwa sungguh tidak ada dendam yang dibawanya, hanya sekedar ingin tahu letak kuburnya.

Sajak mengenai Pangeran Diponegoro terinspirasi dari sebuah lukisan karya Raden Saleh Syarif Bustaman, yang dibuat 27 tahun setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda melalui sebuah pengkhianatan. Sebuah lukisan padat isyarat yang menggambarkan perjuangan & kewibawaan Pangeran Diponegoro serta kekerdialan Belanda menghadapi keberaniannya, dilukiskan kembali oleh Taufik Ismail melalui keindahan bait demi bait sajak ini.

Arti sebuah Afrika yang lebih dari sekedar benua bagi seorang Taufik Ismail, dituangkannya dalam sajak “Apa Arti Afrika Untukku ?”. Melalui sajak ini Taufik mengilustrasikan Syeikh Yusuf dari Aceh dan Tuan Guru dari Tidore yang dibuang Belanda ke Afrika sebagai akibat dari perlawanan mereka terhadap Belanda.

Pada puisi tentang Syeikh Pante Kolo, seorang pejuang asal Aceh, Taufik Ismail berkisah tentang kekuatan sebuah puisi yang ditulis oleh Syeikh Pante Kolo disepanjang pelayaran dari Jedah ke tanah air dalam perjalanan pulangnya setelah menunaikan ibadah haji. Puisi yang bercerita tentang Hikayat Perang Sabit itu lalu diserahkannya kepada Teuku Cik Di Tiro setibanya di Aceh. Puisi ini ternyata berhasil membangkitkan semangat rakyat Aceh bergerak melawan penjajahan Belanda. Betapa perjuangan dapat dilakukan melalui banyak cara, dalam berbagai medium... melalui sebuah puisi, sebuah karya sastra sekalipun…

Puisi terakhir yang sekaligus menutup rangkaian pembacaan puisi Taufik Ismail diberinya judul ‘’Rindu Pada Stelan Jas Putih & Pantalon Putih Bung Hatta’’. Lewat syair-syairnya, Taufik Ismail ingin bercerita mengenai kerinduannya akan sosok tauladan yang memiliki sifat seperti Bung Hatta. Seorang yang selalu tepat waktu, ringkas janji, hemat bicara, bersahaja, sederhana & lurus jujur. Bung Hatta dengan stelan jas & pantaloon putihnya, yang terbuat dari bahan sederhana, adalah seorang yang tidak suka berhutang. Tidak pernah berhutang!! Jauh dari sifat hedonisme yang saat ini mendominasi negeri ini. Bung Hatta dengan jiwa & semangat kebangsaannya yang tulus tanpa pamrih, adalah sosok yang sangat sulit ditemukan di zaman ini. Bung Hatta yang selalu tepat waktu & pegang janji menjadi sebuah gambaran sosok yang ganjil di tengah bangsa yang senang akan keterlambatan (Taufik dengan jenaka mengilustrasikan bahwa satu-satunya sifat tepat waktunya hanya kalau berbuka puasa). Sosok seperti Bung Hatta dengan sifat jujur & ringkas bicaranya menjadi sangat langka di bumi tercinta ini, ditengah riuh rendahnya janji-janji manis yang kerap diumbar oleh para petinggi negeri ini. Sungguh sebuah kerinduan akan sosok yang telah demikian didamba.

Namun… kiranya siapa sekarang yang benar-benar rela – tanpa pamrih - memberikan tenaga & bahkan jiwanya demi kemakmuran bangsanya ??? Berjuang dengan gigih, demi kemajuan rakyatnya ??? Bagai perjuangan para pahlawan di masa silam yang tanpa gentar membela kehormatan bangsanya, merebut kemerdekaan yang hakiki… Demi menjaga negeri yang sungguh merupakan karya indah Tuhan Yang Maha Kuasa…

Sebagaimana dapat disimak dalam syair lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki yang – entah mengapa selalu membuat hati saya trenyuh – begitu pula saat mendengar didendangkan kembali malam itu.

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Reff :
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya

Reff :
Indonesia ibu pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi


Adakah syair lagu & bait puisi itu masih dapat berlaku di negeri ini ?


-PriMora Harahap-

23 Des 2008


note:
tulisan ini dipostingkan juga di blog Kompasiana (Kompas.com) dan Detik blog (Detik.com) pada kategori seni-budaya.

Kamis, 18 Desember 2008

Surprisingly, Beyond Your Imagination !

Penutup dari rangkaian program World Music Festival 2008 milik GKJ di penghujung tahun ini yang diselenggarakan pada malam ke 17 bulan ini, berupa pertunjukan musik Nita Aartsen Quarto bertajuk ‘’Welcome to Our Home”.

Saya pernah mendengar ihwal Quarto ini sebelumnya, yang bermain di alur latin jazz. Nita Aartsen, sang pianis, pernah beberapakali tampil bersama berbagai orkestra negeri ini. Ia pun pernah mengisi pelbagai festival jazz tanah air, semacam JakJazz dan Java Jazz. Awalnya saya mengira ini hanyalah sebuah pertunjukan musik jazz sebagaimana lazimnya saya saksikan pada perhelatan musik jazz.

Namun… yang saya temukan sungguh di luar dugaan saya.

Surprise… Surprise…

Sebuah pertunjukan musik di luar imajinasi saya… tersuguhkan dengan sangat cantik sepanjang 2 jam malam itu. Nita dengan ke 3 teman bermusiknya berhasil menghantarkan komposisi-komposisi klasik yang abadi hingga saat ini, buah karya komposer-komposer ternama yang sangat mahsyur di zamannya, menjadi sebuah suguhan musik bernafaskan latin jazz dengan rhythm dinamis namun manis terdengar.

Ini bukanlah sebuah pertunjukan musik klasik seperti yang kerap saya hadiri di gedung-gedung pertunjukan dengan format formal, penuh dengan pakem-pakem bermusik yang sudah baku.

Ini juga bukan sebuah pagelaran musik jazz biasa yang sekedar menampilkan kepiawaian musisinya, yang dengan bebas dapat melakukan improvisasi sana-sini.

Ini sebuah pertunjukkan musik yang dengan jeniusnya mengemas ulang komposisi-komposisi musik klasik yang terdengar anggun, dengan ritme latin jazz nan rancak. Irama dasar dari setiap komposisi klasik yang dimainkan masih terdengar jelas pada dentingan piano bagai sebuah lukisan nan indah. Namun hentakan bass, dentuman drum dan tabuhan perkusi yang sangat khas latin jazz berpadu serasi membingkainya.

Terkadang perkusi terdengar menghadirkan nuansa samba brazilian, namun di saat lain dentingan piano menyuguhkan irama salsa ataupun alunan cha-cha.

More than just an ordinary music!

Perpaduan antara 2 genre musik berbeda kutub, yang terkemas apik dan indah menjadi satu kesatuan rasa…

Hmmm…. tanpa sadar jari jemari saya turut bergerak ‘memainkan tuts-tuts piano’ saat mendengar komposisi-komposisi klasik yang begitu akrab di telinga saya. Namun bersamaan dengan itu terasa sulit menahan kaki untuk tidak berdansa salsa, mengalun cha-cha, bergoyang samba dan merentak merengue.

Bila saja pagelaran ini tidak diadakan di ruang pertunjukan GKJ yang berbungkus atmosfir keanggunan sebuah gedung kesenian nan megah… bila saja pagelaran ini berlangsung di sebuah cafĂ© tempat saya biasa melantai bersama teman-teman… mungkin saya sudah tidak dapat menahan diri.....

Nita mengawali pertunjukkannya di atas pentas dengan mengantarkan prolog bagi hadirin, yang lebih merupakan sambutan selamat datang bagi tamu-tamu yang hadir mengunjungi ‘’Rumah’’ tempatnya berkesenian. ‘’Friendly Persuasion’’ melanjutkan prolog tersebut sebagai sebuah introduction. Gubahan yang merupakan adaptasi dari ‘’Caruso’’, sebuah komposisi klasik yang sangat mahsyur.

Sebuah kemasan ulang dari komposisi klasik karya Schubert berjudul ‘’Serenade’’ dibawakan dalam bentuk lagu berjudul ‘’Windows of The Night” yang dinyanyikan oleh Anda, seorang vocalis pria muda.

‘’Fur Elise’’ karya Beethoven yang sangat kondang merupakan komposisi yang menjadi dasar bagi sebuah instrumentalia berjudul “Good Times’’. Ditampilkan melalui dentingan piano dalam format ketukan Cha-cha pada bait-bait tertentu, yang dilanjutkan oleh permainan perkusi a la Brazilian yang sangat lincah oleh Iwan Wiradz (mengingatkan saya akan musik pengiring Capoeira). Kemasan yang sangat kental dengan nuansa latin jazz, membuat komposisi ini terasa sungguh berbeda dari biasanya.

Steven Wilson, vocalis asal Belanda, menjadi penampil yang membawakan sebuah lagu berbahasa Inggris : ‘’Let’s Dance’’ dengan nada-nada penuh riang. Sebuah hasil adaptasi dari ‘’Frohlicher Landmann’’ karya Schumann.

Sebuah lagu yang diberi judul ‘’Usai’’, merupakan hasil adaptasi dari sebuah karya Bach. Lagu dengan nada-nada sendu ini digubah Nita untuk ayahandanya tercinta. Dinyanyikan oleh Dira, seorang vocalis muda berbakat, lagu ini terdengar begitu menyentuh hati.

Komposisi “Minuet in G” dari Bach yang tidak kalah mahsyur itu tersaji dalam bingkai Salsa yang cantik. Sebuah lagu berjudul “Selamanya” digubah oleh Nita di atas komposisi ini. Tiga bahasa - Indonesia, Inggris dan Spanyol - digunakan sebagai perpaduan lirik yang manis dalam lagu ini.

Gubahan berjudul “Ring My Bell’’ merupakan adaptasi yang ciamik dari ‘’Blue Rondo a la Turca’’. Adapun ‘’Knock On My Door” dikemas ulang dengan apik di atas komposisi “Plasier D’Amor”.

‘’Symphony 40’’ karya Mozart dijadikan dasar adaptasi bagi gubahan yang diberi tajuk ‘’De Javu’’. Mendengar komposisi ini, bagi saya memang terasa ‘’De Javu’’, namun dalam nuansa berbeda.

Marusya Nainggolan tampil sebagai featuring, memainkan piano untuk komposisi “Moon Light Sonata” karya Beethoven, mengiringi pembacaan sebuah sajak pendek Nita. Komposisi ini dilanjutkan dengan halus, tanpa jeda, oleh permainan piano dan alunan indah suara Nita pada lagu “Baciami Tanto”, sebuah versi Italy dari lagu “Besame Mucho” yang kondang dinyanyikan dalam bahasa Spanyol.

Ditutup dengan sebuah gubahan berjudul ‘’On Fire’’, adaptasi dari ‘’Turkish March’’, buah karya seorang composer jenius, Mozart. Komposisi ini dimainkan berselang-seling dalam sentuhan klasik & latin jazz. Sebuah perpaduan yang menakjubkan.

Di akhir acara, Duta Besar Switzerland dan Wakil Duta Besar Nederland yang hadir malam itu, diminta untuk berkenan naik ke atas pentas memberikan rangkaian bunga kepada para pengisi acara.

Akhirnya… pagelaranpun usai sudah…

Namun, keindahan alunan komposisi klasik dalam kemasan berbingkai latin jazz yang baru saja saya saksikan terasa tidak pernah usai dari hati saya…

Sungguh… sebuah pertunjukkan musik yang menimbulkan decak kagum…


-PriMora Harahap-

18 Des 2008


Note:
tulisan ini dipostingkan juga di blog Kompasiana (Kompas.com) dan Detik blog (Detik.com) pada kategori seni-budaya.

Kamis, 11 Desember 2008

Yang Peduli pada Yang Terabaikan...

Bravo ! Salut ! Kagum !

Sungguh… ke 3 kata tsb spontan terbersit di hati & pikiran saya saat saya berkesempatan melihat pertunjukan Batuan Ethnic Fussion kemarin malam, pada malam ke 10 di bulan penutup tahun ini, berlokasi di Gedung Kesenian Jakarta.

Kelompok musik yang tampil sebagai bagian dari rangkaian program ''World Music Festival 2008'' milik GKJ di bulan Desember ini, digawangi oleh I Wayan Balawan, seorang gitaris asal Bali.

Komposisi demi komposisi nan rancak nian, merupakan hasil kolaborasi dari 2 kelompok intrumen musik berbeda format – modern & tradisional. Sungguhpun saya sangat yakin tidaklah mudah untuk menciptakan harmoni nada-nada yang merupakan perpaduan basis Pentatonic & Diatonic, namun mereka berhasil menyajikan repertoire demi repertoire dengan ringan & ceria. Sangat jauh dari kesan berat, monoton & membosankan, yang selama ini sering didapati orang dari musik-musik tradisional. Kerumitan irama musik Bali dan kepiawan Balawan memadukannya dengan irama musik modern – fussion jazz – yang juga tidak mudah, lengkap dengan improvisasinya, patut mendapat acungan jempol.

Saya sendiri, bukanlah seorang yang mahir memainkan alat musik ataupun paham benar hal ihwal bermusik. Saya hanyalah seorang penikmat musik. Tapi ternyata telinga saya yg terbiasa mendengar sesuatu yg ''easy-listening'', malam itu dapat menikmati setiap nada yang disuguhkan, yang serta merta terasa langsung bersahabat dengan telinga saya.

Kagum saya kian bertambah ketika Balawan menuturkan latar belakang dia mendirikan kelompok musik ini, yang bisa jadi juga merupakan obsesinya atas kecintaannya terhadap budaya leluhur. Balawan sengaja membentuk kelompok musik tersebut yang sebagian besar melibatkan teman-teman masa kecilnya guna dapat melestarikan & mengangkat budaya Bali sebagai budaya tradisional.

“Saya mencoba untuk melestarikan budaya Bali dengan mengajak teman-teman saya tetap memainkan musik tradisional Bali. Saya prihatin karena banyak anak muda di Bali lebih tertarik untuk terjun ke bidang pariwisata. Mereka lebih memilih untuk bekerja di hotel-hotel daripada mempelajari kesenian Bali sendiri”, begitu kurang lebih penuturannya memberitahukan alasannya untuk mencoba bertahan di jalur musik yang boleh dibilang idealis ini.

Wuiiih...! Betapa membanggakan mendengar pernyataan seperti keluar dari mulut seorang anak muda Indonesia.

Yaaa… itulah kenyataan saat ini… tidak hanya di Bali, tapi saya yakin menggejala di seluruh daerah di nusantara ini.

Negeri ini tidak hanya kekurangan musikus penerus musik tradional, tapi juga penerus seni kebudayaan lainnya termasuk pengrajin kain tradisional seperti batik, ulos, songket, tenun ikat… Sungguh jarang ditemukan anak muda yang mau mempelajari keahlian2 tsb.

Guru les membatik saya pun pernah bercerita bahwa di Yogya dan Solo sendiri generasi mudanya sudah enggan belajar membatik, khususnya batik tulis yang memerlukan ketekunan. Banyak kaum muda di daerah kini lebih memilih berbondong-bondong hijrah ke kota besar, khususnya Jakarta, bekerja di pabrik-pabrik, ketimbang memajukan seni budaya daerahnya masing-masing.

Diakui pula oleh Balawan, sangatlah sulit untuk mengusung & bertahan pada jalur musik idealis di negeri ini. Sehingga kompromi dengan pasar tak pelak harus juga dilakukan sesekali, agar musiknya dapat diterima publik. Ya… mereka tentu harus tetap memikirkan pula selera pasar & beragam upaya agar public mau menerima musik mereka, karena bila tidak, tentu mubazir sajalah segala jerih payah mereka mengusung musik tradisional ini di tengah-tengah hiruk-pikuknya gempuran musik modern.

Mereka harus memutar otak lebih keras agar musik tradisional dapat diterima dan dinikmati oleh generasi muda bangsa ini yang diharapkan dan seharusnyalah menjadi penerus budaya lokal.Sebuah perjuangan yang tidak sesederhana membalik telapak tangan tentu, menyimak betapa generasi muda bangsa ini telah sedemikian sering ‘’dicekoki’’ oleh budaya-budaya barat dalam kesehariannya, sehingga merasa lebih akrab dengan budaya-budaya dari luar tersebut.

Tengok, bagaimana riuh & ramainya setiap pagelaran musik yang mendatangkan musisi manca negara walau berbayar amat sangat mahal sekalipun, hingga ratusan ribu bahkan tak jarang mencapai bilangan juta rupiah. Sungguh gegap gempita !

Tapi berapa banyak yang hadir pada pertunjukkan musik tradisional – atau setidaknya ‘’semi tradisional’’?
Semalam saya lihat, tidak sampai 2/3 tempat duduk terisi.

Itupun diakui oleh Balawan, bahwa kenyataan berbicara selama ini kelompok musiknya lebih sering mendapat tawaran manggung di luar negeri ketimbang di negeri sendiri. Masyarakat luar Indonesia justru memberi tempat dan apresiasi lebih tinggi bagi musik tradisional ini. Acap memang saya menjumpai beberapa duta besar asing datang menghadiri pertunjukan sejenis di GKJ maupun di TIM, sementara sangat jarang – bila tidak bisa dibilang tiada - petinggi negeri ini yang terlihat.

Miris…

Betapapun apa yang mereka lakukan sungguh suatu upaya mulia !
Dan terasa begitu mulia, tatkala beberapa tahun terakhir bangsa kita dihentakkan oleh kenyataan betapa banyaknya warisan budaya leluhur bangsa ini yang terabaikan... atau... diabaikan...

Hati ini terasa semakin miris dan trenyuh, saat pikiran melayang sesaat mengingat berita demi berita yang mengabarkan lagu-lagu daerah negeri ini ‘’dicuri’’ & ‘’diakui’’ oleh negara lain. Bahkan tidak terbatas lagu, tapi juga busana dan kain tradisional, motif perhiasan tradisional hingga benda-benda purbakala – pedang, arca, keris, kendi dan masih banyak artefak-artefak lainnya - yang seharusnya menjadi kebanggaan bangsa ini, kini justru menjadi kebanggaan bangsa lain. Lebih menyedihkan lagi, ketika penelusuran membuktikan sebagian besar ‘’perpindahan’’ benda-benda purbakala bangsa ini ke pihak asing justru difasilitasi oleh rakyat negeri ini sendiri yang sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya.

Gubrak !!!

Sontak pemerintah dan pejabat dari tingkat pusat hingga tingkat daerah tiba-tiba ramai urun suara. Menyatakan ‘’keprihatinan’’ mereka dan ‘’mengutuk’’ para pelaku pencurian budaya. Seperti biasa, mereka kemudian selalu terlihat sibuk ‘’beraksi’’ manakala masalah besar telah terkuak. Sungguh sebuah kebiasaan buruk bangsa ini yang lebih sering reaktif ketimbang antisipatif.

Kalaupun ada, selalu dan selalu hanya sebatas pada program peningkatan pariwisata secara instan, sekedar mengkatrol jumlah kunjungan wisatawan yang berujung pada pamrih peningkatan devisa negara. Selalu & selalu ditinjau dari aspek komersil semata, olahan angka-angka statistik yang menggambarkan peningkatan wisatawan & hunian hotel. Tapi belum terlihat upaya sepenuh daya untuk melestarikan & meningkatkan kesadaran serta kebanggaan masyarakat akan beragam budaya bangsa ini.

Tidak pernah disadari, betapa sebuah penggalakan program pariwisata haruslah dibangun dari hulu ke hilir. Dimulai dengan pengembangan & pelestarian budaya local berikut dengan situs-situs maupun artefak bersejarah, mengajarkan bangsa ini untuk dapat menghargai & menjaga budayanya, memfasilitasi masyarakat dengan berbagai pelatihan budaya dan instrumen pendukung lainnya yang diperlukan, justru pada akhirnya akan menarik wisatawan mancanegara bertandang ke negeri ini, yang pada gilirannya juga akan meningkatkan pendapatan & taraf kehidupan masyarakat di setiap daerah.

Sebuah peran pelestarian budaya yang seharusnya dilakoni – setidaknya dimotori - oleh para petinggi & pemuka negeri ini, ternyata justru dijalankan oleh segelintir kecil anak-anak muda yang lebih menyadari arti kebesaran bangsanya dengan langsung bertindaknyata. Beruntung negeri ini masih memiliki sejumlah perancang busana kondang yang kemudian tergerak untuk berkreasi menciptakan busana dari beragam bahan dasar kain tradisional agar dapat menjadi tren di kalangan anak muda.

Sementara para pemangku jabatan, yang kerap menggaung-gaungkan arti kebangsaan disetiap perhelatan acara nasional negeri ini, entah di acara peringatan proklamasi, kebangkitan nasional, sumpah pemuda, hari pahlawan dan sejumlah hari-hari nasional lainnya, sering hanya berhenti di sebatas Slogan & terlena dalam seremonial perhelatan megah Pencanangan ini itu.

Sepulang dari GKJ, otak saya tak jua bisa diajak untuk berhenti berpikir mengenai kebesaran sejarah budaya bangsa ini dan ancaman kepunahan yang sudah di depan mata, sekalipun sejatinya badan ini telah teramat letih setelah bekerja seharian di kantor.

Akhirnya saya hanya bisa berharap, semoga anak-anak muda seperti Balawan, Dwiki Dharmawan dengan Krakatau-nya, Ananda Sukarlan yang kerap ‘’pulang kampung’’ menggelar repertoire hasil gubahannya maupun aransemen ulang atas komposisi dan karya sastra seniman-seniman besar negeri ini atau… siapapun yang masih peduli, tetap bersemangat mengangkat karya seni tradisional tanah air tercinta ini, tidak patah arang dengan kondisi yang ada.

Masih banyak kesenian & kebudayaan tradisional yang harus mendapat perhatian & perlu diangkat ke permukaan. Negeri ini begitu luas, dari Sabang sampai Merauke, terdiri dari begitu banyak pulau, tentunya menyimpan begitu banyak keindahan budaya di dalamnya. Kiranya siapakah nanti yg akan mewarisi & meneruskannya ?

Harapkan masih ada asa…

-PriMora Harahap-

11 Des 2008


Note:
tulisan ini dipostingkan juga di blog Kompasiana (Kompas.com) dan Detik blog (Detik.com) pada kategori seni-budaya.